Di tengah padatnya aktivitas pekerjaan dan rutinitas sehari-hari, menjaga hubungan dengan Al-Qur’an menjadi hal yang sering kali terlupakan. Padahal, Al-Qur’an bukan hanya sekadar bacaan, tetapi juga pedoman hidup yang mampu menenangkan hati sekaligus menjadi sumber keberkahan dalam kehidupan.
Hal inilah yang disampaikan dalam pengajian office rutin bulanan yang diadakan oleh PT Ukhuwah Berkah Semesta (manajemen dari Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken) . Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam membangun lingkungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga penuh nilai spiritual dan kebersamaan.
Salah satu materi yang disampaikan datang dari Ustadz Opik selaku Area Spiritual PT Ukhuwah Berkah Semesta. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an di tengah kesibukan dunia kerja dan kehidupan modern saat ini. (Baca juga: Mengenal Watak Asli Manusia Lewat Ujian Kehidupan)
Luangkan Waktu untuk Al-Qur’an Sebelum Beraktivitas
Dalam penyampaiannya, Ustadz Opik menekankan bahwa setiap Muslim sebaiknya memiliki waktu khusus bersama Al-Qur’an setiap harinya. Bahkan, beliau menyarankan untuk meluangkan waktu setidaknya satu jam sebelum memulai aktivitas harian.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa memulai hari dengan Al-Qur’an bukan hanya memberi ketenangan, tetapi juga menjadi sumber energi positif sebelum menjalani berbagai pekerjaan dan tantangan kehidupan.
Di era sekarang, banyak orang memulai pagi dengan membuka media sosial, mengecek pesan, atau sibuk dengan urusan pekerjaan. Padahal, meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membawa dampak besar bagi hati dan pikiran.
Tidak harus langsung membaca dalam jumlah banyak, yang terpenting adalah konsisten dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari rutinitas harian.
Jangan Pernah Merasa Puas Setelah Khatam
Selain mengingatkan pentingnya membaca Al-Qur’an, beliau juga menyampaikan pesan mendalam tentang proses belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Menurutnya, seseorang tidak boleh merasa puas hanya karena sudah khatam membaca atau bahkan selesai menghafal. Justru setelah itu akan ada ujian berikutnya, yaitu apakah ia mau terus mengulang dan menjaga hafalannya atau malah mulai meninggalkannya.
Pesan ini sangat relevan bagi siapa saja, khususnya generasi muda yang semangat di awal tetapi sering kehilangan konsistensi di tengah jalan.
Menghafal dan membaca Al-Qur’an bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, melainkan siapa yang mampu istiqomah menjaganya dalam jangka panjang. Karena sejatinya, menjaga hafalan sering kali lebih berat dibanding menghafalnya.
Dari sini kita belajar bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an adalah perjalanan seumur hidup. Tidak berhenti ketika khatam, tetapi terus berlanjut dalam bentuk membaca, murojaah, memahami, hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an Adalah Hidangan dari Allah SWT
Salah satu analogi menarik yang disampaikan dalam tausiyah tersebut adalah tentang Al-Qur’an sebagai hidangan dari Allah SWT.
Beliau menyampaikan bahwa ketika ada hidangan yang disiapkan, tentu manusia ingin mencicipinya. Apalagi jika hidangan tersebut datang langsung dari Allah SWT, maka sudah seharusnya kita mengambil dan menikmatinya, bukan malah membiarkannya begitu saja.
Perumpamaan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Banyak orang memiliki Al-Qur’an di rumah, di meja kerja, bahkan di ponsel mereka, tetapi jarang benar-benar membukanya.
Padahal, di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk, ketenangan, ilmu, dan keberkahan yang sangat besar bagi kehidupan manusia.
Maka sangat rugi apabila kesempatan untuk dekat dengan Al-Qur’an justru disia-siakan. Terlebih di tengah kehidupan modern yang penuh distraksi, Al-Qur’an bisa menjadi penuntun agar hati tetap tenang dan langkah tetap berada di jalan yang baik.
Sebaik-Baiknya Manusia Adalah yang Dekat dengan Al-Qur’an
Dalam tausiyahnya, Ustadz Opik juga mengingatkan salah satu hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mau membaca Al-Qur’an, mengamalkannya, dan mengajarkannya.”
Pesan ini menjadi motivasi bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an bukan hanya soal membaca, tetapi juga bagaimana isi kandungannya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dibagikan kepada orang lain.
Lingkungan kerja yang baik bukan hanya dibangun dengan target dan pencapaian bisnis semata, tetapi juga dengan nilai-nilai kebaikan, akhlak, dan spiritualitas yang kuat.
Melalui pengajian rutin seperti ini, PT Ukhuwah Berkah Semesta berharap seluruh keluarga besar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken dapat terus bertumbuh, bukan hanya secara profesional, tetapi juga secara spiritual.
Karena pada akhirnya, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian dunia, melainkan juga tentang bagaimana hati tetap dekat dengan Allah SWT dan Al-Qur’an di setiap langkah kehidupan. (Baca juga: Cara Mendapatkan Ketenangan Hati Menurut H. Erwan Barudi)
Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS




