Belajar dari Perang Uhud: Jangan Sampai Semangat Beribadah Kalah dengan Urusan Dunia

Yogyakarta – Semangat menuntut ilmu terus menjadi budaya yang dijaga oleh PT Ukhuwah Berkah Semesta selaku manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Dalam Pengajian Store rutin yang digelar pada Rabu, 15 Juli 2026 di Masjid Al-Furqon Nitikan, Yogyakarta, para peserta kembali mendapatkan banyak pelajaran berharga yang bisa diterapkan dalam kehidupan maupun di dunia kerja.

Salah satu materi disampaikan oleh Ustadz Opik Taopikurohman selaku Area Spiritual. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk memiliki semangat berjuang di jalan Allah yang tidak kalah besar dibandingkan orang-orang yang berjuang demi urusan dunia. ( Baca juga: Jangan Terlalu Resah dengan Masa Depan, Perbaiki Dulu Kualitas Sholat dan Dekatkan Diri kepada Al-Qur’an )

Ustadz Opik membuka ceramah dengan mengajak jamaah merenungkan makna dari Surah Ali Imran ayat 140 yang turun setelah Perang Uhud. Dalam perang tersebut, sekitar 700 pasukan kaum muslimin menghadapi sekitar 3.000 pasukan Quraisy. Perang itu menjadi salah satu ujian berat bagi umat Islam. Sebanyak 70 sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk paman Rasulullah SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib. Banyak pula sahabat yang mengalami luka-luka, bahkan Rasulullah SAW sendiri ikut terluka.

Melihat kondisi tersebut, banyak sahabat yang merasakan kesedihan dan kepedihan. Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya yang bermakna:

“Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum itu pun mendapat luka yang serupa. Hari-hari kemenangan dan kekalahan itu Kami pergilirkan di antara manusia agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang benar-benar beriman.” Ali Imran ayat 140

Menurut Ustadz Opik, ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan memang selalu membutuhkan pengorbanan. Rasa lelah, sakit, bahkan kehilangan bukan hanya dialami oleh orang-orang beriman, tetapi juga oleh mereka yang memperjuangkan tujuan yang salah.

“Kalau orang yang berada di jalan kebatilan saja berani berkorban, kenapa kita yang berada di jalan Allah justru mudah menyerah?” ungkap beliau.

Beliau kemudian mengutip salah satu penjelasan Gus Baha yang memberikan gambaran sederhana namun begitu mengena.

“Seorang maling rela bangun sebelum subuh. Dia melawan dinginnya pagi, melawan rasa kantuk, bahkan rela mengambil risiko tertangkap demi mencuri. Lalu kenapa kita tidak mau bangun subuh untuk melaksanakan shalat Subuh? Padahal sama-sama melawan dingin dan sama-sama melawan rasa kantuk.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa semangat dan pengorbanan sebenarnya dimiliki oleh banyak orang. Bedanya, ada yang menggunakannya untuk mengejar urusan dunia, bahkan perbuatan yang salah, sementara seorang muslim seharusnya memiliki semangat yang lebih besar dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Belajar dari Perang Uhud: Jangan Sampai Semangat Beribadah Kalah dengan Urusan Dunia

Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk tidak menjadi pribadi yang malas ketika mendengar panggilan sholat. Sebab, salah satu ciri orang munafik adalah merasa berat saat hendak menunaikan sholat, terutama sholat Subuh dan Isya.

Semangat dalam beribadah, menurut beliau, tidak cukup hanya muncul ketika suasana hati sedang baik. Justru keimanan diuji ketika seseorang tetap memilih taat meskipun rasa malas, kantuk, atau lelah sedang datang.

Selain membahas semangat berjuang, Ustadz Opik juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kekalahan yang dialami kaum muslimin dalam Perang Uhud menjadi bukti bahwa Allah SWT juga memberikan takdir yang tidak menyenangkan kepada hamba-Nya.

Namun, bukan berarti takdir tersebut adalah bentuk kebencian Allah. Justru di balik peristiwa itu terdapat banyak pelajaran berharga. Kaum muslimin belajar tentang kesabaran, ketaatan, dan menerima ketentuan Allah dengan lapang dada.

Di sisi lain, Perang Uhud juga menghadirkan takdir yang membahagiakan bagi sebagian orang, yaitu mereka yang gugur sebagai syahid. Sebuah kemuliaan yang sejak dahulu menjadi cita-cita banyak orang beriman.

“Takdir itu tidak selalu menyenangkan. Ada saatnya Allah memberi kebahagiaan, ada juga saatnya Allah memberi ujian. Keduanya sama-sama datang dari Allah dan sama-sama mengandung hikmah,” jelas beliau.

Dalam kesempatan itu, beliau juga mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang amanah. Menurutnya, siapa pun yang diberi amanah untuk memimpin, sekecil apa pun lingkupnya, harus menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

“Kalau hari ini kita menjadi pemimpin, jalankan amanah itu dengan baik. Karena akan ada masanya kita juga dipimpin oleh orang lain.”

Di akhir tausiyahnya, Ustadz Opik mengingatkan agar setiap muslim menjauhi perbuatan zalim. Beliau menjelaskan bahwa zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Salah satu contoh sederhana adalah menunda sholat hingga keluar dari waktunya. Hal yang terlihat sepele, tetapi termasuk bentuk tidak menempatkan kewajiban pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Melalui materi yang disampaikan, para peserta diajak untuk terus memperkuat semangat beribadah, berjuang, dan menerima setiap ketentuan Allah dengan hati yang ikhlas.

Semangat inilah yang terus dibangun dalam budaya Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, bahwa bekerja, menuntut ilmu, dan menjalankan amanah adalah bagian dari ibadah. Dengan nilai-nilai tersebut, diharapkan setiap insan perusahaan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang profesional, tetapi juga memiliki akhlak yang baik serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pelanggan. ( Baca juga: Kerja, Menuntut Ilmu, dan Bersyukur adalah Jalan Meraih Keberkahan )

Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Belajar dari Perang Uhud: Jangan Sampai Semangat Beribadah Kalah dengan Urusan Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *