Yogyakarta – Setiap hari kita makan. Pagi sarapan, siang mencari makan lagi, malam pun begitu. Selama perut kenyang dan makanan terasa enak, biasanya kita merasa semuanya baik-baik saja. Tapi, pernah nggak kita berhenti sebentar dan bertanya: uang yang kita pakai untuk membeli makanan ini sebenarnya berasal dari mana?
Pertanyaan sederhana ini ternyata menyimpan makna yang besar. Sebab, dalam Islam, urusan makan bukan cuma tentang rasa kenyang, tetapi juga tentang halal dan haramnya rezeki yang kita bawa masuk ke dalam tubuh.
Pesan inilah yang menjadi salah satu inti ceramah Ustaz Opik Taopikurohman. Beliau mengajak kita untuk lebih berhati-hati dalam mencari rezeki, karena apa yang kita makan bukan hanya berpengaruh pada kehidupan di dunia, tetapi juga berkaitan dengan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT. ( Baca juga: Ayam Geprek Sa’i Dukung Pendidikan Anak Usia Dini melalui Manasik Haji Bersama 1.400 Peserta di Malang )
Nafsu Perut, Ketika Rasa Kenyang Lebih Penting daripada Halal dan Haram
Dalam ceramahnya, Ustaz Opik Taopikurohman mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali tentang dua sumber kejahatan manusia, yaitu nafsu perut dan nafsu kelamin. Pembahasan kali ini lebih menyoroti nafsu perut, sesuatu yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Nafsu perut bukan sekadar keinginan untuk makan saat lapar. Lebih jauh, nafsu ini bisa membuat seseorang melakukan berbagai cara demi memenuhi keinginannya, tanpa lagi peduli apakah rezeki yang didapatkan berasal dari jalan yang halal atau justru sebaliknya.
Selama bisa menghasilkan uang dan membuat perut kenyang, semuanya dianggap tidak masalah.
Padahal, di sinilah kita perlu berhenti dan berpikir. Jangan sampai keinginan memenuhi kebutuhan hidup membuat kita mengabaikan batasan yang sudah ditetapkan Allah SWT. Apalagi jika cara mendapatkan uang tersebut sampai merugikan orang lain, mengambil hak orang lain, atau melibatkan sesuatu yang jelas-jelas dilarang agama.
Perut memang bisa kenyang dalam waktu singkat. Namun, tanggung jawab atas cara kita mendapatkan makanan tidak selesai hanya karena piring sudah kosong.
Jangan Asal Kenyang! Makanan yang Masuk ke Tubuh Bukan Cuma Urusan Perut, tapi Juga Akhirat
Makanan Haram, Mengapa Kita Harus Begitu Berhati-hati?
Ustaz Opik menjelaskan bahwa makanan haram perlu diwaspadai karena dampaknya tidak boleh dianggap sepele. Dalam pesan yang beliau sampaikan, rezeki haram yang masuk ke tubuh bisa berkaitan dengan dorongan untuk melakukan kemaksiatan.
Gambaran yang disampaikan cukup membuat kita berpikir. Ketika sesuatu yang haram terus-menerus masuk ke dalam tubuh, seseorang dikhawatirkan semakin terbiasa mengabaikan batasan agama. Keinginan melakukan hal yang dilarang pun bisa terasa semakin mudah diikuti ketika seseorang tidak lagi menjaga dirinya.
Karena itu, mencari rezeki halal bukan sekadar perkara mendapatkan uang dengan jumlah yang cukup. Ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa cara kita memperoleh penghasilan tetap berada di jalan yang benar.
Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai seseorang dari perilakunya atau menyimpulkan bahwa setiap perbuatan buruk pasti disebabkan oleh makanan yang dikonsumsinya. Namun, pesan utamanya jelas: seorang muslim perlu menjaga apa yang masuk ke dalam tubuhnya sekaligus menjaga cara dirinya mencari nafkah.
Jangan sampai kita begitu teliti memilih makanan yang enak, tetapi justru lupa memeriksa apakah uang untuk membelinya diperoleh dengan cara yang benar.
Dari Mana Harta Kita Berasal? Semua Akan Dipertanggungjawabkan
Ada satu pengingat penting dalam ceramah ini, yaitu perjalanan manusia menuju kehidupan akhirat dan beratnya pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama hidup.
Ustaz Opik Taopikurohman menjelaskan adanya tujuh tahapan menuju surga. Dalam penjelasan tersebut, kematian disebut sebagai tahapan yang paling mudah, sedangkan peradilan menjadi tahapan yang paling sulit karena manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah asal-usul harta dan makanan yang kita peroleh. Dari mana uang itu datang? Bagaimana cara mendapatkannya? Untuk apa uang tersebut digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa memikirkan tanggung jawab yang menyertainya.
Lebih jauh lagi, ketika kita menggunakan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada tanggung jawab moral dan agama untuk memastikan bahwa nafkah tersebut berasal dari sumber yang halal. Memberikan makanan kepada keluarga bukan hanya soal membuat mereka kenyang, tetapi juga tentang ikhtiar memberikan sesuatu yang baik.
Jangan Cuma Memikirkan Enaknya, Pikirkan Juga Halalnya
Pada akhirnya, kita tidak dilarang menikmati makanan enak, bekerja keras, atau berusaha meningkatkan penghasilan. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keinginan tersebut membuat kita menghalalkan segala cara.
Pesan ini juga relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika kita bekerja, menjalankan usaha, dan melayani pelanggan. Nilai kejujuran serta tanggung jawab perlu menjadi bagian dari setiap langkah yang kita ambil.
Bagi keluarga besar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, pengingat ini bisa menjadi bahan refleksi untuk terus menjaga amanah, bekerja dengan jujur, dan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Sebab, mencari rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan. Ada hal yang jauh lebih penting: bagaimana rezeki itu diperoleh dan apakah kita siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT.
Jadi, mulai sekarang, jangan cuma bertanya apakah makanan kita enak atau apakah perut sudah kenyang. Sesekali, tanyakan juga kepada diri sendiri: sudah benarkah cara kita mendapatkan rezeki hari ini? ( Baca juga: Fun Cooking dan Lomba Mewarnai Ayam Geprek Sa’i Teuku Umar Tegal: Belajar Seru Bersama KB Tunas Harapan Bangsa )
Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
Jangan Asal Kenyang! Makanan yang Masuk ke Tubuh Bukan Cuma Urusan Perut, tapi Juga Akhirat




