Yogyakarta – Komitmen PT Ukhuwah Berkah Semesta (Manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken) dalam membangun budaya kerja yang berlandaskan nilai-nilai Islam terus diwujudkan melalui Pengajian Office rutin yang digelar setiap bulan. Pada pelaksanaan Sabtu, 18 Juli 2026, yang berlangsung di kediaman Bapak Rizki Surya, Staff Processing sekaligus Shohibul Bait bulan ini, seluruh peserta kembali mendapatkan banyak pelajaran berharga dari para pemateri.
Salah satu materi yang menarik perhatian disampaikan oleh Ustadz Opik Taopikurohman, Area Spiritual PT Ukhuwah Berkah Semesta. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa mencari ilmu merupakan ibadah yang sangat mulia. Namun, kemuliaan tersebut bisa berubah menjadi petaka apabila seseorang memiliki niat yang salah saat menuntut ilmu.
Materi ini diawali dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa siapa saja yang menuntut ilmu dengan tujuan untuk mendebat orang bodoh, menandingi para ulama karena kesombongan, atau hanya mencari popularitas di hadapan manusia, maka hendaknya ia bersiap menerima ancaman yang sangat berat dari Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bukan hanya amalan yang dinilai oleh Allah, tetapi juga niat yang ada di balik setiap usaha yang dilakukan. Sebab, ilmu yang dipelajari dengan niat yang benar akan menjadi jalan menuju keberkahan, sedangkan ilmu yang dipelajari dengan niat yang salah justru dapat menjadi sebab datangnya azab. ( Baca juga: Jangan Sampai Hati Kita Diam-Diam Lebih Mencintai Dunia daripada Allah )
Dalam tausiyahnya, Ustadz Opik menjelaskan bahwa ada tiga tujuan menuntut ilmu yang perlu dihindari oleh setiap muslim.
1. Menuntut Ilmu untuk Mendebat atau Merendahkan Orang Lain
Tujuan pertama yang diingatkan adalah belajar agar bisa mendebat atau merendahkan orang lain. Tanpa disadari, sikap seperti ini masih sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya ketika diminta mengajari rekan kerja atau teman yang belum memahami suatu pekerjaan, tetapi justru berkata, “Masa begini saja nggak bisa sih?” atau sengaja mempermalukan orang lain karena dianggap kurang pintar.
Padahal, ilmu seharusnya menjadi jalan untuk saling membantu, bukan menjadi alat untuk menunjukkan bahwa diri sendiri lebih hebat. Orang yang benar-benar berilmu justru akan lebih sabar dalam membimbing, menghargai proses belajar orang lain, dan tidak mudah meremehkan kemampuan sesamanya.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berbagi dengan cara yang baik.
2. Menuntut Ilmu untuk Menandingi Para Ulama atau Menyombongkan Diri
Tujuan kedua yang harus dihindari adalah mencari ilmu agar merasa lebih hebat dibandingkan orang lain, termasuk merasa mampu menandingi para ulama karena kesombongan.
Ustadz Opik menjelaskan bahwa kesombongan sering kali muncul ketika seseorang merasa sudah mengetahui banyak hal. Akibatnya, ia mudah meremehkan nasihat orang lain, enggan menerima masukan, bahkan merasa dirinya selalu paling benar.
Padahal, semakin luas ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin tumbuh rasa rendah hati. Sebab, ilmu manusia hanyalah setetes dibandingkan ilmu Allah SWT yang tidak terbatas.
Orang yang benar-benar berilmu akan menyadari bahwa proses belajar tidak pernah selesai dan selalu ada ruang untuk memperbaiki diri.
3. Menuntut Ilmu Hanya untuk Mencari Popularitas
Tujuan ketiga adalah belajar hanya demi mendapatkan pengakuan atau popularitas di hadapan manusia.
Di era digital seperti sekarang, godaan untuk dikenal banyak orang memang semakin besar. Tidak sedikit orang yang belajar hanya agar dianggap pintar, mendapatkan pujian, atau ingin dikenal luas.
Padahal, ketika tujuan utamanya hanyalah mencari perhatian manusia, maka nilai ibadah dalam menuntut ilmu bisa hilang. Ilmu yang seharusnya mendekatkan seseorang kepada Allah justru berubah menjadi sarana memenuhi ego dan mencari pujian.
Karena itu, Ustadz Opik mengajak seluruh peserta untuk selalu meluruskan niat setiap kali belajar. Niat yang ikhlas akan membuat ilmu menjadi lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Banyak Orang Tidak Sadar, Ternyata Ada 3 Tujuan Menuntut Ilmu yang Bisa Menjerumuskan ke Neraka
Islam Mendorong Umatnya Terus Belajar
Selain membahas pentingnya niat, Ustadz Opik juga mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya terbatas pada ilmu agama. Islam sangat menghargai setiap ilmu yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Ilmu matematika, sains, teknologi, manajemen, hingga berbagai keterampilan lainnya juga termasuk ilmu yang patut dipelajari selama digunakan untuk hal-hal yang baik dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim didorong untuk terus belajar sepanjang hayat. Semakin luas wawasan yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan untuk memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.
Namun, di atas semua itu, niat tetap menjadi pondasi utama. Ilmu yang banyak tidak akan bernilai jika digunakan untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang dipelajari dengan hati yang ikhlas akan menjadi jalan menuju keberkahan dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Menjadikan Ilmu sebagai Jalan Memberi Manfaat
Pesan yang disampaikan Ustadz Opik menjadi refleksi bagi seluruh peserta Pengajian Office. Di lingkungan kerja, proses belajar merupakan bagian yang tidak pernah berhenti. Mulai dari mempelajari prosedur kerja, meningkatkan kemampuan, hingga berbagi pengalaman dengan rekan kerja, semuanya merupakan kesempatan untuk terus berkembang.
Karena itu, semangat belajar hendaknya selalu dibarengi dengan kerendahan hati, keinginan untuk saling membantu, serta niat memberikan manfaat kepada sesama. Dengan cara itulah ilmu tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT.
Melalui Pengajian Office yang rutin diselenggarakan setiap bulan, PT Ukhuwah Berkah Semesta (Manajemen Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken) terus menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga membentuk karakter seluruh keluarga besar perusahaan. Nilai-nilai seperti keikhlasan, semangat belajar, dan saling menghargai diharapkan terus tumbuh dalam setiap aktivitas kerja, sehingga Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken tidak hanya dikenal melalui produk yang disajikan kepada masyarakat, tetapi juga melalui budaya Islami yang menjadi landasan dalam setiap langkah dan pelayanannya. ( Baca juga: Belajar dari Perang Uhud: Jangan Sampai Semangat Beribadah Kalah dengan Urusan Dunia )
Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
Banyak Orang Tidak Sadar, Ternyata Ada 3 Tujuan Menuntut Ilmu yang Bisa Menjerumuskan ke Neraka




