Lebih dari Sekadar Cuan: Mengubah Bisnis Jadi Mesin Kebaikan yang Rahmatan lil ‘Alamin

Lebih dari Sekadar Cuan: Mengubah Bisnis Jadi Mesin Kebaikan yang Rahmatan lil ‘Alamin Zaman sekarang, kalau kita bicara soal kesuksesan dalam bisnis, apa sih hal pertama yang langsung terlintas di kepala? Pasti nggak jauh-jauh dari pundi-pundi uang yang melimpah, rumah bak istana, mobil mewah berjejer di garasi, atau status sosial yang bikin semua orang menengok. Kita sering banget mendewakan angka-angka di rekening sebagai satu-satunya bukti kalau sebuah usaha itu “berhasil”.

Tapi, coba deh kita rehat sejenak dari standar duniawi yang bikin lelah itu, dan dengerin prinsip keren dari Pak Erwan, sosok di balik layar Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken. Beliau punya pandangan yang benar-benar membalikkan logika arus utama: bisnis yang sukses itu bukan diukur dari seberapa kaya pemiliknya, melainkan seberapa besar bisnis tersebut mampu membawa keberkahan dan manfaat bagi alam semesta atau istilah kerennya, Rahmatan lil ‘Alamin.

Esensi dari kalimat ini dalam banget. Pak Erwan mengajak kita semua, entah itu yang baru mau merintis usaha atau yang sudah jadi bos, untuk mengubah cara pandang kita tentang arti sebuah kesuksesan. ( Baca juga: Jangan Sia-Siakan Pekerjaanmu, Karena Bersyukur Dimulai dari Apa yang Sedang Kamu Jalani )

Jebakan “Kekayaan Pribadi” yang Sering Bikin Buta

Nggak bisa dimungkiri, sifat dasar manusia itu pengennya menumpuk harta buat diri sendiri. Banyak pebisnis yang terjebak dalam siklus: buka usaha, cari untung gede, beli aset pribadi, lalu pamer. Fokusnya murni berputar di sekitar ego sendiri. Akibatnya, karyawan sering kali dianggap cuma sebagai “alat produksi” yang ditekan biayanya sekecil mungkin demi keuntungan pemilik yang sebesar-besarnya.

Nah, Pak Erwan justru mendobrak ego ini. Bayangkan, dengan ratusan cabang bisnisnya, beliau bisa saja hidup super glamor, beli mobil sport super mahal, atau punya kolam renang raksasa di rumahnya. Tapi beliau memilih jalur yang berbeda. Kenapa? Karena beliau sadar kalau harta yang ditumpuk sendirian itu pertanggungjawabannya berat banget di akhirat nanti. Dunia ini cuma tempat mampir yang sementara. Kalau kesuksesan bisnis cuma diukur dari kekayaan pribadi, lalu apa bedanya bisnis kita dengan sistem kapitalis yang haus duniawi?

Ketika fokus bisnis digeser dari “seberapa banyak yang bisa saya ambil” menjadi “seberapa banyak yang bisa saya beri,” di situlah keajaiban spiritual dimulai. Bisnis nggak lagi jadi beban yang bikin stres karena ngejar target angka doang, tapi berubah jadi ladang bermain yang seru untuk mengumpulkan bekal masa depan.

Keberkahan: Saat Uang Sedikit Terasa Cukup, Uang Banyak Jadi Manfaat

Dalam kamus bisnis spiritual, ada satu kata yang nggak akan pernah bisa dihitung pakai rumus matematika atau aplikasi akuntansi tercanggih sekalipun. Nama kata itu adalah keberkahan.

Apa sih berkah itu? Berkah itu sederhananya adalah bertambahnya kebaikan. Dalam bisnis, keberkahan itu kelihatan dari bagaimana uang yang dihasilkan mengalir. Uang hasil bisnis nggak dipakai buat foya-foya sendirian, tapi diputar lagi untuk kesejahteraan orang banyak. Di Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken, keuntungan bisnis itu dipotong sampai 30% murni untuk urusan dakwah, sosial, dan pendidikan.

Nggak cuma itu, karyawan pun diangkat derajatnya. Anak-anak karyawan dibiayai sekolahnya, bahkan yang mau masuk pesantren digratiskan. Ibu-ibu karyawan yang baru melahirkan dikasih subsidi susu supaya anak-anak mereka tumbuh cerdas dan sehat. Ini dia yang namanya keberkahan yang nyata! Bisnis itu jadi jalan keluar bagi kesulitan hidup orang lain.

Secara logika matematika manusia, membagi-bagi uang sebanyak itu pasti bikin pemiliknya “kurang kaya”. Tapi secara logika langit, di sinilah bisnis itu justru jadi raksasa yang nggak bisa roboh, karena didoakan oleh ratusan karyawan dan orang-orang yang terbantu di luar sana.

Lebih dari Sekadar Cuan: Mengubah Bisnis Jadi Mesin Kebaikan yang Rahmatan lil ‘Alamin

Menjadi Rahmatan lil ‘Alamin di Dunia Nyata

Konsep Rahmatan lil ‘Alamin atau menjadi rahmat bagi semesta alam itu bukan cuma slogan yang bagus diucapkan saat seminar atau ditulis di profil perusahaan. Konsep ini butuh aksi nyata di lapangan.

Menjadi rahmat itu artinya kehadiran bisnis kita bikin lingkungan sekitar tersenyum. Karyawan merasa aman bekerja karena hak spiritualnya (seperti salat berjamaah dan belajar ngaji) dijaga dengan baik. Konsumen merasa senang karena dapat makanan yang halal, bersih, berkualitas, dengan harga yang jujur tanpa tipu-tipu. Bahkan masyarakat sekitar pun kecipratan berkahnya lewat program-program sosial yang dijalankan perusahaan.

Ketika sebuah bisnis sudah sampai di tahap ini, pemiliknya mungkin nggak punya Ferrari, tapi dia punya ribuan “aset” yang jauh lebih mahal: yaitu doa-doa tulus dari orang-orang yang hidupnya terbantu lewat bisnis tersebut. Dan buat apa juga punya mobil mewah kalau hati selalu gelisah? Jauh lebih nikmat melihat senyum anak karyawan yang bisa sekolah tinggi gara-gara bisnis yang kita kelola, kan?

Saatnya Mengubah Niat Bisnis Kita

Artikel ini bukan melarang kita untuk jadi pebisnis kaya raya, ya. Punya bisnis besar dan menghasilkan banyak uang itu bagus banget, dan Islam pun sangat mendukung umatnya untuk kuat secara ekonomi. Tapi, poin pentingnya adalah tujuan akhirnya. Jadilah kaya, tapi jadikan kekayaan itu sebagai alat untuk menebar manfaat, bukan untuk dipajang sebagai simbol kesombongan.

Yuk, buat kamu yang punya bisnis—mau itu sekadar jualan online kecil-kecilan, warung kopi, atau bahkan perusahaan yang sudah berkembang—coba deh kita tata ulang niat kita. Mulai besok, jangan cuma hitung berapa omzet yang masuk hari ini. Tapi coba tanya ke diri sendiri: “Hari ini, bisnis saya sudah bikin berapa orang terbantu? Sudah seberapa bermanfaat usaha saya buat lingkungan sekitar?”

Sebab pada akhirnya, pas kita menghadap Sang Pencipta nanti, yang ditanya bukan “Berapa digit saldo rekening bisnismu?”, melainkan “Uang dari bisnismu itu kamu pakai buat bantu siapa saja?”. Mari kita ubah bisnis kita bukan cuma jadi mesin pencetak cuan, tapi jadi kendaraan berkah yang mengantar kita dan orang-orang di sekitar kita menuju kebahagiaan yang hakiki. ( Baca juga: Bukan Sekadar Fasilitas, Mushola yang Bersih Jadi Bentuk Pelayanan Nyata di Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken )

Narasumber: H Erwan Barudi

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Source: YT PecahTelur

Lebih dari Sekadar Cuan: Mengubah Bisnis Jadi Mesin Kebaikan yang Rahmatan lil ‘Alamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *