Ketika Semua Orang Terlelap, Masihkah Kita Mau Mendekat kepada Allah?

Ketika Semua Orang Terlelap, Masihkah Kita Mau Mendekat kepada Allah? – Ada satu waktu ketika suasana terasa begitu tenang. Jalanan mulai sepi, sebagian besar orang sudah terlelap, dan aktivitas sehari-hari berhenti untuk sementara.

Itulah malam hari.

Di saat seperti itu, ternyata ada kesempatan untuk mendekat kepada Allah SWT. Bukan karena ada orang lain yang melihat, bukan karena ingin mendapatkan pujian, tetapi karena memang ingin menjadi hamba yang lebih dekat kepada-Nya. ( Baca juga: Sholat Tepat Waktu: Bukan Sekadar Rutinitas, Tapi Cara Kita Belajar Menghargai Waktu )

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh yang luar biasa dalam hal ini. Beliau tetap menghidupkan malam dengan ibadah hingga kaki beliau sampai membengkak.

Padahal, Rasulullah SAW sudah dijamin masuk surga.

Lalu, kenapa beliau masih begitu kuat beribadah?

Karena beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur.

Dari sini kita bisa belajar bahwa rasa syukur bukan hanya tentang mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Syukur juga bisa diwujudkan dengan mencari jalan agar kita semakin dekat dengan Allah.

Salah satunya melalui ibadah di malam hari.

Sholat tahajud, berdzikir, dan berdoa menjadi bagian dari amalan yang bisa dilakukan ketika sebagian besar orang sedang beristirahat.

Ada sebuah gambaran sederhana tentang malam hari.

Bayangkan sebuah jalan raya yang biasanya ramai. Pada siang hari, kendaraan datang silih berganti. Namun ketika malam tiba, jalan tersebut menjadi lebih sepi.

Begitu juga dengan suasana malam.

Ketika banyak orang sedang terlelap, ada sebagian orang yang memilih bangun untuk menghadap Allah, berdzikir, dan memanjatkan doa.

Di sinilah kita diajak untuk bertanya kepada diri sendiri:

Ketika tidak ada orang yang melihat, apakah kita masih mau melakukan sesuatu untuk Allah?

Pertanyaan ini ternyata tidak hanya berlaku dalam urusan ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika bekerja, kita juga sering berhadapan dengan situasi yang sama.

Ada pekerjaan yang dilakukan ketika atasan melihat. Ada juga pekerjaan yang tetap dilakukan dengan baik meskipun tidak ada yang mengawasi.

Di situlah keikhlasan diuji.

Ketika sudah menerima gaji dari perusahaan, tentu ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Pekerjaan bukan hanya tentang bagaimana agar terlihat baik di depan atasan, tetapi bagaimana kita menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh.

Ketika Semua Orang Terlelap, Masihkah Kita Mau Mendekat kepada Allah?

Niatkan bekerja untuk mencari ridha Allah.

Ketika niatnya benar, pekerjaan yang dilakukan dengan baik juga bisa menjadi bagian dari ibadah.

Datang bekerja tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga kepercayaan, memberikan pelayanan dengan baik, dan tidak bermalas-malasan bukan hanya soal penilaian manusia. Ada nilai yang lebih besar ketika semua itu dilakukan karena sadar bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan.

Baik ketika bekerja di Ayam Geprek Sa’i, Hajj Chicken, maupun di tempat lainnya, setiap orang tentu memiliki tanggung jawab masing-masing. Ada pekerjaan yang terlihat oleh banyak orang dan ada pula pekerjaan yang mungkin tidak banyak diketahui.

Namun, nilai sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melihatnya.

Sama seperti ibadah malam.

Ketika kita bangun untuk tahajud, berdzikir, atau berdoa saat orang lain sedang tidur, mungkin tidak ada manusia yang tahu. Tetapi Allah tahu.

Begitu pula saat bekerja.

Mungkin atasan tidak selalu melihat bagaimana kita menyelesaikan setiap tugas. Mungkin tidak setiap usaha mendapatkan pujian. Tetapi kalau pekerjaan tersebut dilakukan dengan niat yang baik dan penuh tanggung jawab, Allah mengetahui setiap usaha yang kita lakukan.

Karena itu, jangan hanya menjadi orang yang rajin ketika dilihat.

Jadilah orang yang tetap melakukan yang terbaik meskipun tidak ada yang memperhatikan.

Sebab pada akhirnya, ikhlas bukan tentang siapa yang melihat kita, tetapi untuk siapa kita melakukan sesuatu.

Malam hari mengajarkan kita untuk mendekat kepada Allah ketika suasana sunyi. Pekerjaan mengajarkan kita untuk menjalankan amanah meski tidak selalu diawasi.

Keduanya bertemu pada satu hal: kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Maka, mungkin sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri:

Kalau tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih mau melakukan yang terbaik?

Jika jawabannya iya, semoga itu menjadi salah satu tanda bahwa kita sedang belajar menjadi hamba yang lebih ikhlas, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Allah SWT. ( Baca juga: Serunya Fun Cooking TK ABA Bleber Bareng Ayam Geprek Sa’i, Belajar Masak Sambil Bermain )

Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Ketika Semua Orang Terlelap, Masihkah Kita Mau Mendekat kepada Allah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *