Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Ramah, Bukan Marah

Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang dirahmati. Setiap orang yang memegang bithaqah لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ patut dihormati dan dihargai sebagai saudara seiman. Adapun perbedaan sikap, pemikiran, dan pandangan di antara mereka merupakan bagian dari kenyataan kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari.

Allah menciptakan makhluk-Nya dalam keadaan yang beragam. Tidak semuanya sama; berbeda dalam bentuk, karakter, kemampuan, pemikiran, dan kecenderungan. Keberagaman itu merupakan bagian dari fitrah manusia dan sunnatullah. Karena itu, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan, mencaci, apalagi saling mengafirkan.

Dalam perkara ushul (pokok-pokok agama), umat Islam memiliki prinsip-prinsip yang menjadi titik persamaan. Namun dalam perkara furu‘ (cabang), ruang perbedaan terbuka luas dan dalam banyak hal memang tidak dapat dihindari. Likulli ra’sin ra’yun—setiap kepala memiliki pikiran dan sudut pandangnya sendiri. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan itu disikapi dengan ilmu, adab, dan penghormatan.

Karena itu, hendaknya kita menghentikan sikap merasa paling benar hingga dengan mudah menuduh saudara sesama Muslim sebagai kafir atau dengan tuduhan-tuduhan lainnya. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk gemar mencurigai, mencela, dan merendahkan saudaranya. Beliau justru mengajarkan kelembutan, kasih sayang, saling mempercayai, dan saling menguatkan.

Api tidak dipadamkan dengan api, tetapi dengan air.

Rasulullah ﷺ senantiasa menunjukkan akhlak yang luhur, bahkan kepada orang-orang yang membenci dan memusuhinya. Ketika beliau dizalimi, beliau tidak membalas dengan kebencian, tetapi justru membalasnya dengan kasih sayang dan doa.

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Tutur katanya lembut, sikapnya santun, dan hatinya penuh kasih sayang. Allah sendiri menegaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

 

Inilah pedoman akhlak Rasulullah ﷺ yang bersumber dari wahyu Tuhannya. Risalah Nabi Muhammad ﷺ bukanlah risalah kebengisan dan kebencian, melainkan risalah rahmat, kasih sayang, kedamaian, dan keselamatan.

Ada pesan yang begitu dalam di balik بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ yang menjadi pembuka Al-Fatihah dan banyak surah dalam Al-Qur’an. Kita diajak untuk selalu mengawali kehidupan dengan mengingat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ketika kebencian mulai merasuk ke dalam hati, ingatlah nama Allah: Ar-Rahman, Ar-Rahim. Ketika amarah mulai menguasai diri, ingatlah bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangan sampai kita menyebut nama-Nya, tetapi perilaku kita justru bertentangan dengan nilai kasih sayang yang terkandung di dalamnya.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kebaikan diawali dengan menyebut nama Allah. Basmalah mengingatkan bahwa setiap amal hendaknya lahir dari niat yang baik dan ditempuh dengan cara yang baik.

Karena itu, jangan menjadikan nama Allah sebagai pembenaran untuk kebencian, kemarahan, penghinaan, atau perbuatan tercela. Tidak ada pembenaran bagi seseorang untuk melakukan keburukan hanya karena mengatasnamakan agama.

Sikap membenci, merendahkan, dan mudah mengafirkan sesama Muslim tidak mencerminkan semangat rahmatan lil ‘alamin. Takfir bukanlah perkara ringan yang boleh dilakukan dengan mengikuti emosi dan prasangka. Ia merupakan persoalan agama yang serius dan membutuhkan ilmu, kehati-hatian, serta otoritas keilmuan yang memadai.

Islam menuntut kita untuk ramah, bukan marah.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam menjaga amarah dan menebarkan kasih sayang. Karena itu, karakter utama risalah beliau adalah rahmat—rahmat yang menghadirkan kesejukan, ketenteraman, kedamaian, dan kerukunan; bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk dan alam semesta.

Karena itu, Islam bukan hanya mengajarkan keramahan dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk dan kepedulian terhadap lingkungan. Menjaga alam, tidak merusak, menyayangi makhluk hidup, dan merawat bumi merupakan bagian dari wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dia yang di atas langit akan menyayangi kalian.”

(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Inilah wajah Islam yang perlu terus kita hadirkan: Islam yang menyejukkan, bukan menakutkan; Islam yang merangkul, bukan memukul; Islam yang mendidik, bukan menghina; Islam yang menghadirkan rahmat, bukan menebarkan kebencian.

Mari kita jauhkan kesombongan dan kecongkakan dari hati. Mari kita tebarkan kesejukan dan kedamaian di tengah umat. Jadilah tempat berteduh yang nyaman bagi sesama; hadir untuk melindungi, menguatkan, dan menghadirkan kebaikan.

Jadilah seperti awan putih yang membawa kesejukan dan hujan kehidupan, bukan awan gelap yang menghadirkan ketakutan.

Sebab Islam adalah agama rahmat.

إِسْلَامٌ رَحْمَةٌ، وَمُحَمَّدٌ ﷺ رَحْمَةٌ، وَرِسَالَتُهُ رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِينَ.

Islam adalah rahmat, Muhammad ﷺ adalah rahmat, dan risalahnya adalah rahmat bagi seluruh alam.

وَالله أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Kontributor: Ustadz Opik Taopikurohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *