“Agama adalah nasihat.”
Kalimat singkat ini mungkin terdengar sederhana. Tapi kalau direnungkan lebih dalam, maknanya ternyata luas. Nasihat bukan sekadar tentang mengingatkan orang lain ketika melakukan kesalahan, apalagi merasa diri paling benar. Lebih dari itu, nasihat adalah tentang menginginkan kebaikan bagi orang yang dinasihati dan berusaha membantu mewujudkan kebaikan tersebut.
Pesan tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Ustadz Opik Taopikurohman selaku Area Spiritual dalam pengajian rutin office. Dalam kajiannya, beliau mengajak para peserta untuk memahami kembali makna nasihat yang sebenarnya dan bagaimana nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. ( Baca juga: Hakikat Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ Perspektif Imam Qadhi Iyadh )
Agama Adalah Nasihat, Tapi Untuk Siapa?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Agama adalah nasihat.”
Para sahabat kemudian bertanya, “Untuk siapa?”
Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin.”
Dari hadits tersebut, kita bisa melihat bahwa nasihat ternyata memiliki cakupan yang sangat luas. Bukan hanya tentang hubungan kita dengan orang lain, tetapi juga bagaimana kita menjaga hubungan dengan Allah, Al-Qur’an, Rasulullah, pemimpin, hingga sesama manusia.
Lalu, bagaimana maksudnya memberikan nasihat kepada Allah?
Tentu bukan berarti Allah yang membutuhkan nasihat dari manusia. Justru manusialah yang membutuhkan Allah. Makna nasihat kepada Allah lebih kepada memurnikan keimanan dan hubungan kita kepada-Nya, meyakini bahwa Allah itu Esa, serta berusaha beribadah kepada-Nya dengan niat yang tulus.
Dengan kata lain, jangan sampai ibadah yang kita lakukan hanya menjadi rutinitas tanpa benar-benar menghadirkan hati di dalamnya.
Nasihat kepada Al-Qur’an, Bukan Sekadar Membacanya
Bentuk nasihat berikutnya adalah kepada kitab Allah, yaitu Al-Qur’an.
Membaca Al-Qur’an tentu merupakan kebaikan. Namun, hubungan dengan Al-Qur’an tidak berhenti ketika ayat terakhir selesai dibaca. Ada pesan yang perlu dipahami dan ada ajaran yang perlu diamalkan dalam kehidupan.
Karena itu, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, seharusnya semakin terlihat pula pengaruhnya dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Begitu juga dengan nasihat kepada Rasulullah. Bentuknya bukan dengan memberikan nasihat kepada Rasulullah SAW, tetapi dengan mencintai beliau, membenarkan ajarannya, dan berusaha mengikuti sunnahnya.
“Agama Adalah Nasihat”: Belajar Menginginkan Kebaikan untuk Diri Sendiri dan Orang Lain
Bagaimana Cara Menasihati Pemimpin?
Bagian ini juga menarik jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja.
Dalam hadits tersebut, nasihat juga ditujukan kepada para pemimpin kaum Muslimin. Artinya, ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki, kita tidak harus diam. Tetapi cara menyampaikannya juga perlu diperhatikan.
Menasihati bukan berarti menjatuhkan.
Menasihati bukan berarti mencari-cari kesalahan.
Dan menasihati juga bukan berarti menyampaikan sesuatu dengan emosi agar orang lain merasa bersalah.
Ada hikmah di dalamnya. Ada cara yang baik, waktu yang tepat, dan niat yang benar.
Di lingkungan kerja, misalnya, ketika seorang karyawan melihat sesuatu yang bisa diperbaiki, menyampaikannya dengan cara yang baik justru bisa menjadi bentuk kepedulian. Begitu pula seorang pemimpin yang menerima masukan dengan terbuka sedang memberikan ruang bagi kebaikan untuk tumbuh bersama.
Nasihat kepada Sesama: Ingin Orang Lain Menjadi Lebih Baik
Nasihat juga berlaku kepada seluruh kaum Muslimin.
Di sinilah makna nasihat terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika melihat teman melakukan kesalahan, apakah tujuan kita menegurnya karena ingin mempermalukannya atau karena benar-benar ingin dia menjadi lebih baik?
Pertanyaan sederhana ini penting untuk direnungkan.
Sebab, niat di balik nasihat menentukan bagaimana nasihat tersebut disampaikan.
Kalau memang menginginkan kebaikan, maka kita akan berusaha menyampaikannya dengan cara yang tidak menyakiti. Kita juga tidak berhenti pada ucapan, tetapi kalau mampu, ikut membantu orang tersebut menuju kebaikan.
Di tempat kerja pun demikian. Membantu rekan yang kesulitan, mengingatkan ketika ada kekeliruan, memberikan masukan, atau membantu menyelesaikan pekerjaan bisa menjadi bentuk nasihat ketika dilakukan dengan niat yang baik.
Nasihat Bukan Tentang Siapa yang Paling Benar
Pada akhirnya, pesan “agama adalah nasihat” mengajak kita melihat kembali cara kita memperlakukan orang lain.
Menjadi orang yang suka menasihati tentu baik. Tetapi jauh lebih penting untuk memastikan bahwa nasihat tersebut lahir dari keinginan untuk memperbaiki, bukan dari keinginan untuk merasa lebih tinggi.
Karena nasihat yang baik bukan hanya membuat orang lain sadar akan kesalahannya. Nasihat yang baik juga membuat seseorang merasa memiliki teman untuk menjadi lebih baik.
Maka, mungkin ada satu pertanyaan yang bisa kita bawa pulang setelah mendengar kajian ini:
Ketika kita menasihati orang lain, apakah kita benar-benar ingin melihatnya menjadi lebih baik, atau sebenarnya kita hanya ingin menunjukkan bahwa kita lebih benar?
Sebab pada akhirnya, agama bukan hanya tentang apa yang kita katakan kepada orang lain. Agama juga tentang bagaimana kita menjaga keikhlasan kepada Allah, mengikuti petunjuk-Nya, mencintai Rasul-Nya, menghormati pemimpin, dan terus menginginkan kebaikan untuk sesama.
Dan mungkin, dari sebuah nasihat sederhana, kita bisa sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik ( Baca juga: Bekerja Bukan Sekadar Mencari Gaji, Tapi Jalan untuk Meraih Ridho Allah )
Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman
Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS
“Agama Adalah Nasihat”: Belajar Menginginkan Kebaikan untuk Diri Sendiri dan Orang Lain
Tonton juga videonya:




