Ingin Kaya Itu Boleh, Asal Tahu untuk Apa: Memahami Syahwat dalam Islam

Ingin Kaya Itu Boleh, Asal Tahu untuk Apa: Memahami Syahwat dalam Islam – Keinginan untuk punya banyak uang, memiliki kehidupan yang nyaman, membahagiakan keluarga, sampai menjadi orang yang sukses sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dicurigai dalam kehidupan seorang muslim. Padahal, tidak semua keinginan manusia itu buruk.

Ada dorongan dalam diri manusia yang justru bisa menjadi tenaga untuk bekerja, berkarya, membangun keluarga, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dorongan itulah yang dalam Islam dikenal sebagai syahwat.

Ustadz Opik Taopikurohman selaku Area Spiritual PT Ukhuwah Berkah Semesta (Manajemen dari Ayam Geprek Sa’i dan Hajj Chicken) menjelaskan bahwa syahwat tidak selalu identik dengan sesuatu yang negatif. Justru, jika diarahkan dengan benar, syahwat bisa menjadi salah satu penopang kehidupan manusia. ( Baca juga: Jangan Merasa Masuk Surga Hanya karena Jabatan, Kebaikan Kecil Pun Bisa Jadi Jalan )

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14).

Ayat tersebut menggambarkan berbagai hal yang memang secara alami disukai manusia. Ada keinginan terhadap keluarga, harta, kehidupan yang nyaman, dan berbagai kesenangan dunia.

Masalahnya bukan sekadar punya keinginan. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengarahkan keinginan tersebut.

Keinginan untuk bekerja keras agar bisa menjadi tulang punggung keluarga, misalnya, bukan sesuatu yang harus dianggap buruk. Begitu juga keinginan untuk memiliki penghasilan yang lebih baik supaya tidak bergantung kepada orang lain.

Selama tujuan tersebut berada di jalan yang benar dan dilakukan dengan cara yang Allah izinkan, keinginan itu justru bisa menjadi sesuatu yang baik.

Ingin Kaya Itu Boleh, Asal Tahu untuk Apa: Memahami Syahwat dalam Islam

Syahwat Tidak Perlu Dihilangkan, tetapi Harus Dibimbing

Manusia memang punya keinginan. Tidak realistis jika semua keinginan itu harus dihilangkan. Yang perlu dilakukan adalah membimbingnya agar tidak keluar dari jalan yang benar.

Dorongan untuk mendapatkan harta bisa membawa seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh. Keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik bisa membuat seseorang mau belajar dan mengembangkan kemampuan. Keinginan untuk membahagiakan keluarga bisa menjadi alasan seseorang bangun pagi dan bekerja keras setiap hari.

Di situlah syahwat bisa menjadi energi positif.

Sebaliknya, ketika keinginan tersebut membuat seseorang menghalalkan segala cara, merugikan orang lain, mengambil hak orang lain, atau melupakan Allah, maka dorongan itu sudah berada di arah yang salah.

Karena itu, yang perlu dilakukan bukan mematikan keinginan, tetapi mengarahkannya.

Muslim Ingin Kaya? Boleh

Menjadi kaya bukan sesuatu yang harus dianggap bertentangan dengan kehidupan seorang muslim.

Seorang muslim boleh punya cita-cita menjadi orang kaya. Bahkan, kekayaan bisa menjadi sarana untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Dengan harta yang cukup, seseorang bisa membantu keluarga, membuka lapangan pekerjaan, bersedekah, membantu orang yang membutuhkan, dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai harta menjadi tujuan akhir.

Sebab, sebanyak apa pun yang dimiliki seseorang di dunia, semuanya tetap bersifat sementara. Harta, jabatan, kenyamanan, dan berbagai kesenangan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.

Yang akan kembali kepada Allah bukanlah seberapa banyak seseorang mengumpulkan kesenangan dunia, tetapi bagaimana ia menggunakan semua yang diberikan kepadanya.

Maka, tidak masalah jika seseorang ingin memiliki rumah yang lebih baik, penghasilan yang lebih besar, bisnis yang berkembang, atau kehidupan yang lebih mapan. Yang menjadi pertanyaan adalah: untuk apa semua itu digunakan?

Jika kekayaan membuat seseorang semakin mudah berbagi, membantu orang lain, membahagiakan keluarga, dan semakin dekat kepada Allah, maka kekayaan tersebut bisa menjadi jalan kebaikan.

Sebaliknya, jika kekayaan justru membuat seseorang lupa diri dan merasa tidak membutuhkan Allah, di situlah masalahnya.

Pada akhirnya, manusia memang tidak bisa lepas dari berbagai keinginan dunia. Itu bagian dari kehidupan. Namun, seorang muslim perlu belajar mengendalikan arah keinginannya.

Bekerja boleh. Ingin sukses boleh. Ingin kaya juga boleh.

Yang tidak boleh adalah membiarkan keinginan tersebut mengendalikan hidup sampai membuat seseorang melupakan tujuan akhirnya.

Sebab dunia hanya tempat singgah. Semua kesenangan yang ada di dalamnya akan berlalu, sementara setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Karena itu, jangan buru-buru membenci keinginan dalam diri. Bimbing keinginan itu agar menjadi tenaga untuk berbuat baik. ( Baca juga: Hajj Chicken & Ayam Geprek Sa’i Salurkan Donasi Rp425 Juta untuk Dukung Kemanusiaan di Palestina )

Bukan syahwatnya yang harus dimatikan, tetapi arahnya yang harus diperbaiki.

Narasumber: Ustadz Opik Taopikurohman – Area Spiritual PT UBS

Kontributor: Kurniawan Adhisukma T – MKT PT UBS

Ingin Kaya Itu Boleh, Asal Tahu untuk Apa: Memahami Syahwat dalam Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *