Bekerja dengan Iman: Ketika Lailahaillallah Menjadi Pondasi Profesionalisme

Dalam sebuah tausiyah yang disampaikan oleh H. Erwan Barudi, Anda diajak untuk kembali menata cara memandang kehidupan dan pekerjaan. Bukan sekadar sebagai aktivitas duniawi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan menuju akhirat. Melalui ayat Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 52, beliau mengingatkan Anda bahwa umat ini adalah umat yang satu, dengan satu tujuan, dan satu Tuhan yang harus ditaati.

Anda mungkin terbiasa merasa bahwa sehat itu biasa saja. Padahal, seperti yang diingatkan H. Erwan Barudi, kesehatan adalah nikmat yang mahal. Ketika Anda masih bisa bernapas dengan bebas, berjalan tanpa rasa sakit, dan melaksanakan salat dengan khusyuk, itu adalah karunia besar dari Allah yang sering tidak Anda sadari. Banyak saudara Anda yang hari ini terbaring lemah di rumah sakit, bahkan harus berjuang hanya untuk menghirup udara. Dari sini, Anda seharusnya mulai bertanya pada diri sendiri: sudahkah nikmat sehat itu Anda tukar dengan ibadah dan ketaatan yang berkualitas?

Dalam konteks bekerja, Anda sering kali terjebak pada target, jabatan, dan pengakuan. H. Erwan Barudi menegaskan bahwa jika niat Anda bekerja hanya untuk dunia—uang, status sosial, atau sekadar kesibukan—maka hasilnya juga akan berhenti pada dunia. Bahkan, belum tentu semua itu Anda dapatkan. Tetapi jika Anda menata niat dengan Lailahaillallah, bekerja karena Allah, maka dunia dan akhirat akan menyertai Anda.

Anda diingatkan untuk tidak membandingkan diri dengan rekan kerja lain. Tidak perlu iri, tidak perlu merasa lebih atau kurang. Setiap orang memiliki peran, kecepatan, dan ujian masing-masing. Di hadapan Allah, yang menjadi standar bukan kekayaan, jabatan, atau gelar pendidikan, melainkan takwa. Ketika Anda menjaga keikhlasan dan ketaatan, pekerjaan Anda akan menjadi bagian dari ibadah.

H. Erwan Barudi juga menekankan pentingnya menjaga suasana kerja yang guyub dan rukun. Jangan biarkan ucapan, prasangka, atau emosi merusak keharmonisan. Anda diminta untuk menahan amarah, memaafkan, dan saling memahami. Karena lingkungan yang damai akan melahirkan produktivitas dan keberkahan.

Pada akhirnya, Anda diajak untuk menyadari bahwa perusahaan, jabatan, dan struktur hanyalah amanah. Hubungan utama Anda bukanlah dengan atasan atau sistem, tetapi dengan Allah. Jika Anda bekerja dengan niat yang lurus dan hati yang ikhlas, maka setiap langkah di tempat kerja akan bernilai ibadah.

Sebagaimana disimpulkan oleh H. Erwan Barudi, kunci menyatukan visi dan misi dalam kehidupan dan pekerjaan adalah takwa yang dibangun di atas keikhlasan. Ketika itu terjaga, maka dunia akan cukup, dan akhirat akan menjadi tujuan utama.

 

Oleh: Rafi (Editor)
Narasumber: H. Erwan Barudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *